Setelah menempuh perjalanan Jakarta-Bangkok selama kurang lebih tiga jam pada trip saya februari lalu. Saat tiba di Suvarnabhumi Airport pada pukul 8 malam, perut saya 'berteriak' meminta untuk diisi. Apalagi di dalam pesawat saya tidak mendapat makanan, karena saya menggunakan maskapai LCC (Low Cost Carrier), Tigerair Mandala, maskapai yang pada bulan juli lalu berhenti beroperasi. Di dalam pesawat, saya hanya membeli air mineral dan memakan biskuit yang dibawa oleh saudara saya.

Awalnya, saya mengetahui Magic Food Center dari internet. Saya yang kurang membaca detail mengenai keberadaannya sempat bingung mencarinya. Saya sempat mencari di food area yang berada di lantai tiga dan empat tetapi yang ada malah menemukan restoran atau cafe-cafe yang harganya tidak bersahabat di kantong apalagi ini di Thailand, negara yang berbiaya murah untuk turis. Jadi saya pikir sayang untuk mengeluarkan uang yang besar. Lalu saya bertanya pada information center dan lagi-lagi mereka menunjukkan resto-resto itu lagi. Duh, sempat putus asa karena perut sudah ngga bisa diajak kompromi malah berpikir untuk makan di dekat hotel aja. Sambil jalan menuju Airport Link, akhirnya saya melihat plang tempat yang dari tadi dicari.
 
Lokasi Magic Food Center ada di lantai satu dekat gate 8 dan letaknya di pojok sehingga kurang terlihat oleh pandangan mata. Sebenarnya, food court ini adalah tempat makannya karyawan bandara dan airlines dan yang saya lihat traveler yang makan disini agak jarang.

Suasana Magic Food Center pada malam hari

Ada sekitar dua puluhan stand yang bisa jadi pilihan, so ngga perlu ragu untuk makan disini karena harganya murah dan sangat terjangkau untuk ukuran makanan di bandara. Mulai dari makanan khas Thai, melayu sampai makanan halal pun tersedia. Ada juga section khusus untuk minuman di ujung. Ada air mineral biasa, thai tea, jus sampai mango sticky rice snack favorit itu juga ada disini.

Untuk membeli makanan dan minuman kita diharuskan membeli kupon untuk dapat bertransaksi. Setelah menukar uang dengan voucher di coupon counter dekat pintu masuk, kita bisa memilih makanan dan minuman pada stand yang diinginkan dan memberikan voucher tersebut kepada stand sebagai pengganti uang tunai.

Coupon Counter untuk menukar uang dengan kupon

Harga makanan ini 50 baht. Porsinya dikit atau saya yang lapar

Semua harga di stand makanan ini pas untuk dibayar dengan kupon, karena harganya kelipatan 5 baht. Oya, makanan yang dijual disini rata-rata 40-60 baht saja loh. Bandingkan saja dengan food area di lantai tiga dan empat, diatas 100 baht. Buat kantong backpackeran bisa bangkrut loh padahal baru aja sampe bandara. Hehehe...

Note: Kupon masih nyisa? Tenang, bisa di refund di coupon counter kok ;)
1 baht =  Rp. 375,- (kurs februari 2014)


Hello everyone!
It's been more than one year, since the last time i posted the article on this blog. Now, it's time for me to come back. Actually i'm not busy at all, but sometimes i feel so lazy to write. I don't know why, it's depends with my mood. There's some article that not finish, it's save in drafts. Repeatedly, it's because i'm lazy to resume. Anyway i'm now in break the semester on my university. Yes it's mean ho-li-day! On this post i want to write partially of my bucket list.

My bucket list:
1. Bonfire with some friends at beach
2. Watching World Cup match live
3. Watching Opening Ceremony of Olympic live
4. Watching Badminton tourney live ☑
5. Watching international artist concert ☑
6. Traveling to Indonesian destination by motorcycle ☑
7. Live and work abroad
8. Volunteering outside Indonesia
9. Dancing Indian in India
10. Graduate from university ☑
11. Surprise donation to someone who needs help
12. Backpacker with friends ☑
13. Find the true love
14. Finish to read English novel
15. Get driving license
16. Traveling abroad ☑
17. Having own garden party
18. Dancing in the rain when 20+ ages
19. Hug panda
20. Traveling with mother
21. Camping
22. Watching Jazz Gunung
23. Earn some money ☑
24. Working at office ☑
25. Solo Backpacking ☑
....

ps: the list can be add at any time.

updated: 03/8/2016


Djarum Indonesia Open (DIO) 2013 telah berakhir, minggu (16/6). Ajang tahunan yang bertitel Super Series Premier (SSP) itu berlangsung selama satu minggu dari tanggal 10-16 juni 2013 di Istora Senayan, Jakarta. DIO merupakan salah satu ajang yang menyuguhkan hadiah terbesar dari ajang-ajang SSP lain di dunia. Total US$ 700,000 atau sekitar 6 miliar rupiah diperebutkan pemain-pemain terbaik dunia yang mengikuti turnamen ini.

Perwakilan Djarum, Ronald Halim menuturkan turnamen ini dinilai sukses dan lebih baik dari penyelenggaraan tahun lalu. "Terus terang secara umum penyelenggaraan tahun ini paling baik yang pernah kami buat. Kami juga puas dengan kerja tim yang terlibat sampai-sampai ada yang tidur di Istora untuk mempersiapkan ini semua." tutur Ronald yang menjabat sebagai Ketua IV dalam penyelenggaraan ini.

Walaupun pada DIO 2014 Djarum tak lagi menjadi sponsor utama mengingat peraturan pemerintah dan BWF yang tidak memperbolehkan brand rokok untuk mensponsori event bulutangkis lagi, tapi Djarum akan berjanji untuk memberikan totalitasnya dalam kemajuan bulutangkis Indonesia dalam cara lain.

Sementara itu pihak BWF, Darren Parks menilai bahwa penyelenggaraan DIO tahun ini juga lebih baik dari sebelumnya. Tetapi akan lebih baik lagi jika penyelenggaraan DIO di gelar di tempat yang lebih luas untuk menampung penonton yang lebih banyak. "Kekurangannya hanya sebatas kapasitas penonton karena saya lihat antusiasme disini sangat besar, waktu penyiaran dan unsur entertainment saat jeda pertandingan." ujar Darren.

(Zora Rencis Kasih)



Tulisan ini merupakan tugas akhir peserta Pelatihan Jurnalistik Bulutangkis Mahasiswa (2013) yang sengaja saya posting dalam menyambut gelaran Piala Sudirman Cup 2013 yang diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia 19-26 mei mendatang. Selamat berjuang Indonesia di Sudirman Cup!


------------------------------------------------------------------------------------------------
Zora Rencis Kasih
-------------------------------------------------------------------------------------------------


Rasanya kita sudah rindu akan berbagai gelar prestigius yang dulu pernah kita genggam pada saat masa jaya bulutangkis Indonesia. Thomas Cup, Uber Cup, World Champion dan bahkan Olimpiade pun nihil hasil. Apa ada yang salah dengan Indonesia?

Bersyukurlah kita, perlahan-lahan perjuangan Indonesia untuk mengembalikan masa kejayaannya mulai menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Contohnya saja, di kejuaraan Malaysia, New Zealand, Australia hingga All England, Indonesia dapat meraih hasil yang baik.

Dalam kata sambutannya di acara Pelatihan Jurnalistik Bulutangkis Mahasiswa (PJBM) 2013, Ketua Umum PBSI periode 2012-2016, Gita Wirjawan menyampaikan keyakinannya dengan prestasi bulutangkis Indonesia. “Saya yakin 2-3 tahun kedepan kalau tidak neko-neko kita bisa sukses.” ujar Gita yang juga menjabat sebagai Menteri Perdagangan RI.

Untuk meraih hal itu para atlet, pelatih maupun pengurus harus tekun dan serius dalam proses mencapai target yang diberikan. Menurut Gita ada tiga hal yang menjadi kunci sukses seseorang untuk mencapai keberhasilan yakni ikhtiar, upaya, dan doa.

Di Sudirman Cup sendiri, Indonesia menetapkan target semifinal, target ini dinilai cukup realistis dengan materi pemain muda dan peringkat Indonesia yang tidak diunggulkan. Namun kita tetap berharap adanya kejutan dari pemain muda untuk mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia.



Seminggu yang lalu saya ke Bandara Soekarno Hatta menggunakan jasa Bis Damri dari pool terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Kebetulan saya duduk di bangku paling depan, tepatnya di belakang supir. Sedikit kaget saya membaca tulisan di kertas yang ditempel di kaca. Kertas itu mejelaskan bahwa terhitung mulai tanggal .... (saya lupa) tarif ke bandara naik dari Rp. 20.000,- menjadi Rp. 25.000,- dari beberapa pool seperti Lebak Bulus, Blok M, Kemayoran, Gambir, Pasar Minggu, dll.

Tetapi ternyata ada fasilitas baru yang diberikan dari pihak Damri, yakni fasilitas Wi-Fi di dalam bus itu sendiri. Wah apakah kenaikan Rp. 5.000,- dialokasikan untuk menambah Wi-Fi? Di twitter malah saya sempat membaca komentar begini, "Di warnet aja internetan sejam Rp. 3.000,-" LOL!

Tidak mau rugi saya ikutan mencoba Wi-Fi bus Damri, ID dan password saya masukkan dan langsung berselancar di internet. Ya, ternyata memang cukup cepat aksesnya. Ya pasti dong paling di bis yang saya naikki hanya beberapa orang dalam hitungan jari yang sedang memakai fasilitas itu juga.

Oya, saya juga mendapat info kalau pool Blok M yang biasanya di belakang Blok M Plaza sekarang pindah ke dalam terminal di koridor 2. Dan semoga saja dengan kenaikkan tarif ini juga dibarengi dengan pelayanan dan ketepatan waktu yang terus meningkat.