Here is the movie list that i have watch along 2015.

January: -
February: Nada Untuk Asa
March: Love & Faith
April: -
May: San Andreas
June: -
July: Terminator Genisys, Ant Man
August: Mission Impossible
September: Maze Runner: The Scorch Trials
October: 3, Malaikat Kecil
November: Spectre
December: Miss You Already, Skakmat, Single, Sunshine Becomes You, Ngenest


"Mi, liburan pergantian semester ini kita jalan yuk bareng temen-temen!"
"Kemana zor?"
"Yg deket aja, di Jakarta juga ada tempat wisata kok!"
"Jakarta lagi? Duh ngga deh bosen terus suasananya gitu2 aja polusi lagi, gw mau yg sejuk..."
"Wah lo kurang update ya? Ada loh Taman Wisata Alam Mangrove di PIK"

.......

Itulah sedikit petikan percakapan saya dengan teman dalam merencanakan pergantian liburan semester yang singkat, persiapan kami pun juga singkat, semalam sebelum keberangkatan kami googling mencari info alamat lengkap, jam buka, harga tiket masuk, dll. Pada hari H, kami sangat excited karena ini adalah short trip kami berlima untuk pertama kali. Ada beberapa cara untuk menuju Taman Wisata Alam Mangrove Pantai Indah Kapuk, antara lain dengan menggunakan Trans Jakarta dan di sambung dengan BKTB lalu turun di Yayasan Budha Tzu Chi, naik kendaraan umum angkot merah U-11, bisa juga dengan menggunakan taksi atau membawa kendaraan pribadi. Jadi ngga perlu bingung, ada banyak jalan menuju Roma, eh maksudnya menuju Taman Mangrove hehe..

Pada hari H, saya dan teman-teman menggunakan kendaraan pribadi, di mobil kami memakai aplikasi di handphone yaitu google maps dan WAZE. Aplikasi ini sangat membantu untuk menemukan jalan yang tepat dan melihat lalu lintas, apalagi dengan menggunakan kartu Indosat Pint@rnet koneksi sama sekali tidak terputus dan secara real time memberikan gambaran yang update! Wuzzzz~~
Greenyyyy
Sampai disana kami di sambut dengan suasana pepohonan yang rindang, angin kencang dan matahari yang selalu 'mengawasi' kami, tapi tetap rimbun kok! Kawasan ini tuh luas banget! Banyak jalan setapak yang super-duper panjang kalau di telusuri, jalan-jalan ini berbentuk susunan balok panjang jadi pilih sepatu yang nyaman saat mengitari tempat ini ya! Oya, klo capek berjalan ada tempat duduk yg terbuat dari susunan balok kayu sebagai 'pos' kita beristirahat, loh. Buat yang mau berwisata air bisa main kano dan perahu yang di kenai biaya lagi. Atau yang mau ikutan melestarikan alam bisa menanam tanaman bakau.

Fresh!
Kawasan yang cukup luas itu kami kitari kurang lebih 1,5 jam dengan berjalan kaki, ada banyak pemandangan unik disana, ada pasangan yang sedang duduk berdua sambil membawa buket bunga untuk pasangannya (so sweet), foto pra-wedding dengan kostum casual atau yang sekedar narsis dan berfoto-foto. Tak mau kalah tanpa di komandoi kami pun 'jeprat jepret' dengan kamera hp biar gampang untuk langsung update dan share. Walaupun kawasan ini jauh dari keramaian ibukota dan ditutupi oleh banyak pohon-pohon waktu saya dan temen-temen share foto menggunakan Indosat Pint@rnet cepet banget deh loadingnya cihuy! bisa tetep update dongggg!

Pose Like Band
Dengan membayar harga tiket masuk sebesar Rp. 25.000,-/orang, ngga perlu jauh-jauh ke luar kota bahkan luar negeri, liburan di kota Jakarta bisa juga kok mendapatkan semua suasana hijau ini, jadi tunggu apalagi? Hei Jakartarian lepaskan penat kalian kesini yukkkkk! :D



*Tulisan ini diperuntukkan untuk lomba blog yang diadakan oleh Indosat*


Setelah menempuh perjalanan Jakarta-Bangkok selama kurang lebih tiga jam pada trip saya februari lalu. Saat tiba di Suvarnabhumi Airport pada pukul 8 malam, perut saya 'berteriak' meminta untuk diisi. Apalagi di dalam pesawat saya tidak mendapat makanan, karena saya menggunakan maskapai LCC (Low Cost Carrier), Tigerair Mandala, maskapai yang pada bulan juli lalu berhenti beroperasi. Di dalam pesawat, saya hanya membeli air mineral dan memakan biskuit yang dibawa oleh saudara saya.

Awalnya, saya mengetahui Magic Food Center dari internet. Saya yang kurang membaca detail mengenai keberadaannya sempat bingung mencarinya. Saya sempat mencari di food area yang berada di lantai tiga dan empat tetapi yang ada malah menemukan restoran atau cafe-cafe yang harganya tidak bersahabat di kantong apalagi ini di Thailand, negara yang berbiaya murah untuk turis. Jadi saya pikir sayang untuk mengeluarkan uang yang besar. Lalu saya bertanya pada information center dan lagi-lagi mereka menunjukkan resto-resto itu lagi. Duh, sempat putus asa karena perut sudah ngga bisa diajak kompromi malah berpikir untuk makan di dekat hotel aja. Sambil jalan menuju Airport Link, akhirnya saya melihat plang tempat yang dari tadi dicari.
 
Lokasi Magic Food Center ada di lantai satu dekat gate 8 dan letaknya di pojok sehingga kurang terlihat oleh pandangan mata. Sebenarnya, food court ini adalah tempat makannya karyawan bandara dan airlines dan yang saya lihat traveler yang makan disini agak jarang.

Suasana Magic Food Center pada malam hari

Ada sekitar dua puluhan stand yang bisa jadi pilihan, so ngga perlu ragu untuk makan disini karena harganya murah dan sangat terjangkau untuk ukuran makanan di bandara. Mulai dari makanan khas Thai, melayu sampai makanan halal pun tersedia. Ada juga section khusus untuk minuman di ujung. Ada air mineral biasa, thai tea, jus sampai mango sticky rice snack favorit itu juga ada disini.

Untuk membeli makanan dan minuman kita diharuskan membeli kupon untuk dapat bertransaksi. Setelah menukar uang dengan voucher di coupon counter dekat pintu masuk, kita bisa memilih makanan dan minuman pada stand yang diinginkan dan memberikan voucher tersebut kepada stand sebagai pengganti uang tunai.

Coupon Counter untuk menukar uang dengan kupon

Harga makanan ini 50 baht. Porsinya dikit atau saya yang lapar

Semua harga di stand makanan ini pas untuk dibayar dengan kupon, karena harganya kelipatan 5 baht. Oya, makanan yang dijual disini rata-rata 40-60 baht saja loh. Bandingkan saja dengan food area di lantai tiga dan empat, diatas 100 baht. Buat kantong backpackeran bisa bangkrut loh padahal baru aja sampe bandara. Hehehe...

Note: Kupon masih nyisa? Tenang, bisa di refund di coupon counter kok ;)
1 baht =  Rp. 375,- (kurs februari 2014)


Hello everyone!
It's been more than one year, since the last time i posted the article on this blog. Now, it's time for me to come back. Actually i'm not busy at all, but sometimes i feel so lazy to write. I don't know why, it's depends with my mood. There's some article that not finish, it's save in drafts. Repeatedly, it's because i'm lazy to resume. Anyway i'm now in break the semester on my university. Yes it's mean ho-li-day! On this post i want to write partially of my bucket list.

My bucket list:
1. Bonfire beach with some friends
2. Watching World Cup match live
3. Watching Opening Ceremony of Olympic live
4. Watching Badminton tourney live
5. Watching international artist concert
6. Traveling to Indonesian destination by motorcycle
7. Live and work abroad
8. Volunteering outside Indonesia
9. Dancing Indian in India
10. Graduate from university ☑
11. Surprise donation to someone who needs help
12. Backpacker with friends
13. Find the true love
14. Finish to read English novel
15. Get driving license
16. Traveling abroad
17. Having own garden party
18. Dancing in the rain when 20+ ages
19. Hug panda
20. Traveling with mother
21. Camping
22. Watching Jazz Gunung
23. Earn some money
24. Working at office
25. Solo Backpacking ☑
....

ps: the list can be add at any time.

updated: 03/8/2016


Djarum Indonesia Open (DIO) 2013 telah berakhir, minggu (16/6). Ajang tahunan yang bertitel Super Series Premier (SSP) itu berlangsung selama satu minggu dari tanggal 10-16 juni 2013 di Istora Senayan, Jakarta. DIO merupakan salah satu ajang yang menyuguhkan hadiah terbesar dari ajang-ajang SSP lain di dunia. Total US$ 700,000 atau sekitar 6 miliar rupiah diperebutkan pemain-pemain terbaik dunia yang mengikuti turnamen ini.

Perwakilan Djarum, Ronald Halim menuturkan turnamen ini dinilai sukses dan lebih baik dari penyelenggaraan tahun lalu. "Terus terang secara umum penyelenggaraan tahun ini paling baik yang pernah kami buat. Kami juga puas dengan kerja tim yang terlibat sampai-sampai ada yang tidur di Istora untuk mempersiapkan ini semua." tutur Ronald yang menjabat sebagai Ketua IV dalam penyelenggaraan ini.

Walaupun pada DIO 2014 Djarum tak lagi menjadi sponsor utama mengingat peraturan pemerintah dan BWF yang tidak memperbolehkan brand rokok untuk mensponsori event bulutangkis lagi, tapi Djarum akan berjanji untuk memberikan totalitasnya dalam kemajuan bulutangkis Indonesia dalam cara lain.

Sementara itu pihak BWF, Darren Parks menilai bahwa penyelenggaraan DIO tahun ini juga lebih baik dari sebelumnya. Tetapi akan lebih baik lagi jika penyelenggaraan DIO di gelar di tempat yang lebih luas untuk menampung penonton yang lebih banyak. "Kekurangannya hanya sebatas kapasitas penonton karena saya lihat antusiasme disini sangat besar, waktu penyiaran dan unsur entertainment saat jeda pertandingan." ujar Darren.

(Zora Rencis Kasih)